Hikikomori, Fenomena Sosial di Tengah Tekhnologi

"Aku kabur ke tempat dimana aku tidak akan menemui siapa pun. Kabur ke dalam kamarku sendiri. Pintu kamar menjadi berat. Bertambah berat dan semakin berat bersama hari yang berlalu. Dan akhirnya aku tidak bisa membukanya sendiri."

Saat menonton salah satu anime baru-baru ini, sebuah kosa kata baru menarik perhatian saya. Himikomori atau shut in atau menarik diri.

Menurut wikipedia, hikikomori adalah istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di  Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Istilah hikikomori merujuk kepada fenomena sosial secara umum sekaligus sebutan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ini.

Saat mengurung diri di kamar, para hikikomori biasanya ditemani oleh internet, manga, anime, novel, movie, dorama, game online, dan makanan instan. Keluar kamar hanya pada saat tertentu dan biasanya di malam hari untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Mereka tidak sekolah maupun bekerja. Mereka masih bisa bertahan hidup karena adanya asuransi maupun jaminan orang tua.

Hikikomori, Fenomena Sosial di Tengah Tekhnologi

Meskipun kejadian ini banyak terjadi di Jepang, fenomena ini menarik perhatian saya karena saya pernah menemui kasus yang menyerupai hikikomori tersebut. Dan berdasarkan hasil browsing di internet hikikomori juga terjadi di Indonesia.

Meskipun beberapa orang mengaku sebagai hikikomori karena lebih senang di kamar untuk membaca manga dan menonton anime, namun kebanyakan mereka di Indonesia masih pergi ke sekolah atau kuliah. Selain itu mereka melakukan tindakan tersebut atas kemauan sendiri. Sehingga, ini belum bisa disebut hikikomori.

Sedangkan hikikomori adalah mereka yang kabur dari lingkungan sosial karena suatu alasan. Mereka hanya menjalaninya dan tak bisa keluar dari keadaan tersebut.

Pemicu seseorang menjadi hikikomori bermacam-macam. Beberapa di antaranya adalah kasus buli dan beban kuliah atau kerja. Pada mulanya hanya menjadikan internet dan kesenangan lainnya sebagai pelarian. Tapi lama-lama mereka terjebak dan sulit untuk keluar.

Salah satu kisah nyata di Indonesia bisa dibaca pada link berikut Hikikomori di Indonesia.

Faktor pendukung penyebab terjadinya hikikomori adalah tekhnologi, terutama internet. Hikikomori bisa mengakses dunia luar dari kamarnya yang sempit melalui internet. Oleh karena itu mereka sanggup bertahan berbulan-bulan hingga tahunan di ruang sempit tersebut. Mereka terkurung di dunia maya dan hidup di sana. Sedangkan dunia nyata di luar sana terasa begitu mengerikan membat mereka tidak mau keluar.

Saat ini, internet sudah begitu marak di Indonesia. Maka kemungkinan munculnya hikikomori pun semakin meningkat. Kita tidak tahu, karena mereka bersembunyi di ruang sempit itu dengan suara sekecil mungkin agar keberadaan mereka tidak terusik oleh dunia luar.

Para hikikomori memerlukan bantuan. Di Jepang ada organisasi bernama NHK yang berusaha menolong orang-orangi ini. Anime yang membahasnya berjudul Welcome To The N.H.K.

Jika memang benar seorang hikikomori bisa memahami hikikomori lainnya. Mungkin, saya juga pernah menjadi hikikomori. Hidup tanpa tujuan, tapi tidak berani bunuh diri. Jauh di lubuk hati saya, saya ingin melangkah keluar dari pintu tersebut. Sayang saya tidak bisa membukanya.

Wahai kawan, jika seseorang tahu kamu berada di dalam. Kemudian membuka pintu, bukan untuk menyuruhmu keluar, tapi masuk dan duduk dalam duniamu. Berbicaralah, keluarkan isi hatimu, dan bulatkan tekadmu. Semoga kita bisa bertemu di bawah sinar matahari.

Komentar