mual dan mengantuk

Mengantuk, pastinya pernah dialami oleh semua orang, tidak terkecuali aku tentunya. Repotnya, kalau rasa ngantuk datang saat sedang kuliah di kelas. Dan aku harus berjuang sekuat tenaga agar aku tidak sampai tertidur.

Nah, di sinilah keanehan terjadi pada diriku. Setiap kali aku melawan rasa kantuk, perlahan-lahan aku merasa mual menghampiriku. Terutama rasa eneg di kerongkongan. Kalau perutku rasanya baik-baik saja. Dan lebih herannya lagi saat kuliah berakhir, mualku hilang entah kemana.

Kadang saat menghadiri seminar pun aku merasa mengantuk. Saat kutahan, mual itu kembali datang dan eneg itu sangat mengganggu. Herannya, munculnya hanya pada saat-saat seperti itu. Tapi jika kuliahnya menyenangkan dan dokternya asyik, biasanya aku tidak mengantuk. Maka rasa mual dan eneg pun tidak muncul.

Sebenarnya aku memang punya kecenderungan untuk muntah, terutama bila naik angkutan umum. Biasanya aku mengatasinya dengan tidur. Tapi apakah berlaku hal yang sebaliknya, sehingga jika aku mengantuk dan tidak tidur muncul rasa mual dan eneg? Rasanya tidak seperti itu.

Pernah juga saat latihan anamnesis aku curhat masalah mualku. Terus ada yang bilang aku alergi kuliah. Rasanya aku tidak separah itu.

Saat belajar n. kranialis, aku berpikir mungkin n.IX ku terlalu peka, sehingga saat ngantuk sedikit, lidahku jatuh, dan mengenai orofaring sehingga merangsang refleks muntahku. Cukup ilmiah, tapi tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Ngomong-ngomong tentang pemeriksaan, sebenarnya aku memiliki anatomi lidah yang juga agak sulit.

Kalau disuruh membuka mulut untuk memeriksa rongga mulut dan faring, maka akan sulit kulakukan. Lidahku selalu menghalangi lapang pandang. Jangankan menilai orofaring, uvulaku saja susah ditengok. Partnerku saat pemeriksaan mulut harus sabar menghadapi mulutku yang tidak bisa dibuka. Kadang aku berpikir, memang lidahku yang susah diatur, atau dari diriku sendiri yang tidak mau diperiksa. Selain itu, lidahku juga tipe lidah yang tidak bisa dilipat, padahal aku melihat orang lain begitu mudah melipat lidah mereka. Sempat terpikir, apa ini genetik? Tapi aku belum memeriksa keluargaku.

Nah, kejadian terparah pada saat kuliah riview pemeriksaan abdomen dan ekstrimitas. Entah kenapa, rasanya aku mengantuk sekali. Mungkin karena malam sebelumnya aku tidur setelah larut malam. Posisi duduk yang melingkar menyebabkan aku berusaha dengan keras untuk menahan kantukku. Tidak lucu rasanya tidur saat riview KKD. Dan hasilnya aku merasa mual dan eneg.

Sesuatu yang membosankan biasanya berlangsung lambat. Begitu pula kuliah kali ini. Dan enegku sudah sampai ke kerongkongan dan rasanya mau keluar. Karena tidak tahan, aku izin ke kamar kecil. Kenyataannya di sana tidak ada yang kukeluarkan. Aku ingin sedikit jalan-jalan untuk menghilangkan ngantuk. Tapi rasanya tidak enak berkeliaran sendiri saat jam kuliah. So, kembali masuk ke kelas.

Setelah sekian menit di kelas, aku merasa mual dan eneg lagi. Kutahan walaupun rasanya mau muntah. Tidak enak kalau aku terlalu sering izin ke belakang. Sepertinya mulutku mau bocor, tapi kutelan lagi cairan yang mengisi mulutku. Uek, rasanya jorok sekali. Dan akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku minta izin ke dr. Fika tanpa kata-kata. Hanya tangan kiriku yang menutup mulutku dengan rapat.


Dan sesampainya di kamar mandi. Ouek! Aku benar-benar muntah. Hanya sedikit memang, tapi benar-benar keluar. Selama ini aku terbiasa dengan mual dan eneg karena kantuk. Cuma baru sekarang keluar sebagai muntah. Begitu parahkah yang kualami? Mungkin aku harus ke dokter untuk tahu kenapa. Tapi aku membayangkan kelainanku ini akan dianggap sesuatu yang sepele, mungkin cukup kuceritakan seperti ini saja.

Komentar